Minggu, 01 Juni 2014

Alif lam mim



ALIF LAM MIM

Ketika alif membangunkanku
Mengajak bertamasya mengelilingi lembah kesejukan
Sampai padi yang menguning di persawahan
Menitikkan senyum diiringi lambaiannya
Tak mampu kumaknai dengan seribu bahasa
Yang kupatri di peraduan syahdu
                                                              
Ketika lam mengguyuri tubuhku dengan permata
Yang berkilauan mengikuti canda ria
Alunkan nyanyian langit
Menembangkan syair manja
Sampai alamat yang pernah aku jadwal
Untuk menyanyikan kisah yang tak pernah
Termanuskrip dalam sejarah mentari memar di tanganku.

Ketika mim mendandani wajahku
Dengan bedak tujuh warna
Dengan jubah kembang tujuh rupa
Membinalkan tatapan
Siapa saja yang menjumpai

Alif lam mim
Hidupku adalah hidup yang fana

Bagai riak air yang digerakkan oleh arus.

Senin, 26 Mei 2014

Berkelana







BERKELANA


berkelana mengendarai segudang hasrat nan kian menggebu-gebu di dada,
aku adalah lelaki yang pernah mandi di antara permadani-permadani yang berkilau pekat,
bagiku bukanlah kemewahan yang membelaiku begitu lembut, namun senyum yang kian menggetarkan dada
begitu tulus kau hamburkan, tanpa henti aku melihat wajah cantik mempesona diantara bentangan gemintang yang bertaburan indah, aduhai syahadat yang kau sematkan diantara kebingunganku kini menyeruak menyerbu kebisingan jiwaku dengan kemegahan tatapan matamu yang begitu binal.

tanpa kau tahu aku sudah kabar kepada malaikat cinta,
bahwa kau adalah serumpun kebahagiaanku yang mungkin akan ku rampungkan
di pesta pernikahan kita nanti,

kau adalah sepenggal rindu yang Tuhan sematkan di dadaku
memberikan tawa demi tawa yang sangat pekat dengan cinta dan kebahgian
semoga Tuhan mengabadikan cinta kita...


26 mei 2014

Jumat, 07 Maret 2014

aku tak tahu



AKU TIDAK TAHU


Aku tidak tahu harus aku mulai dengan apa puisi ini
Sementara nutrisi batinku semakin melemah
Aku tak ingin dianggap pernah ada
Atau bahkan adaku memang tidak pernah ada
Padahal bulir-bulir rindu akan selalu menjajakku
Bagaimana aku mengobatinya?
Sementara tak ada tempat lagi yang bersedia aku tunggangi.

Bisakah aku abadi Sekalipun dengan guratan pena?
Bisakah aku abadi Sekalipun dengan segelintir peluh?
Tapi bagaimana bisa?
Penaku tak lagi membekas
Peluhku tak lagi menetas

Membuat abadi memang tak mudah
Karena sama halnya denga tak mudahnya kita melukis
Di atas cakrawala,
Tapi bukan berarti tak bisa membuat abadi
Karena membuat abadi tidak terlalu sulit

Cukup berguru pada batu yang menjadi sejarah rahasia Ibnu Hajar
Cukup berguru pada kaktus yang masih tetap hidup
Sekalipun berada di gurun pasir yang gersang
Tidak pernah menghiraukan dahaga fatamorgana
Tidak pernah merisaukan keterasingan yang mendesing desing
Tidak pula menghawatirkan  hidup yang terkatung-katung

Sepertinya puisi ini hampir rampung
Tapi aku tidak tahu bagaimana mengakhirinya
Sama halnya dengan aku tidak tahu bagaimana mengawalinya
Karena tinta ini tetap mengalir deras
Membanjiri kertas yang putih ini

Sekalipun begitu,
Rupa-rupanya aku akan tetap mengakhiri
Karena aku tak ingin menjadi sombong diri
Begitu saja melupakan siapa? bagaimana? Dan untuk apa?
maka selayaknya puisi ini aku akhiri dengan do’a saja


Allahumma Agnini bil ilmi
Wa zayyini bil hilmi
Wa Albisni bittaqwa
Wa Akrimni bil afiyyah

(yaallah ya Tuhanku, kayakanlah aku dengan ilmu
Dan hiasilah aku dengan kedermawanan
Dan bajuilah aku dengan ketaqwaan
Dan mulyakanlah aku dengan  kesehatan).

By: Ef. Amin Elfibyan
Beraji, 09 februari 2014



Jumat, 14 Februari 2014

cerpen

LEBAY


Seperti ungkapan yang sering terdengar dari seorang yang dimabuk cinta ” jiwa seorang yang dimabuk cinta akan merasa sakit karena rindu, sebab seorang pecinta selalu ingin bersama, sekalipun rintangan selalu mengahadang membuat batin menjerit dan tubuh binasa, namun bagi pecinta kebahagiaan dan kesedihan itu sama indahnya, karena cinta sejati pengorbanan takkan sia-sia”.
Dalam pengembaraan menunggangi perahu cinta seorang remajalah rajanya, dari bingkai segala hal inginnya serbah wah, kebersihan dialah yang ingin paling bersih, kerapian dialah yang ingin paling rapi, penampilan dialah yang ingin paling menarik, pokoknya dunia remaja itu adalah masa-masa ingin menjajal dunia.
“Waktu itu setelah Natasya bersama teman-temannya merencanakan untuk menghabiskan liburan di kampung halaman tercintanya, dengan kurun waktu liburan panjang bulan lalu, sementara beberapa teman-temannya yang lain masih menetap di asrama. Setelah tiba saat yang di tunggu-tunggunya, berangkatlah Natasya, Tini dan wardah ke Terminal Bus dengan Tujuan Mudik,
“ karena di terminal penumpang masih dapat dihitung dan antrean pemberangkatan bus masih belum ada tanda-tanda untuk berangkat, maka Natasya dan kedua temannya Masih nongkrong dulu di tempat peristirahatan penumpang, yang sudah jelas kelelahan dari berbagai jurusan. Sebelum lama menduduki tempat itu, tiba-tiba ada seorang pemuda yang menyamplang Tas di lambungnya dengan ukuran tidak terlalu besar cukup untuk mengamankan buku dan bolpen.
“pemuda itu meminta izin duduk di samping Natasya, dengan Ragu-ragu Natasya mengizinkannya.
“ Ah ini kesempatanku untuk mengenal siapa dia dan darimana asalnya??? Rasa-rasanya aku pernah melihatnya, Dimana ya??? Soalnya wajahnya tidak asing bagiku, biasanya setiap firasatku ketika mengatakan tidak asing, aku benar-benar pernah tau atau paling tidak pernah melihatnya. Tapi dimana ya??? Pemuda itu bertanya-tanya dalam hatinya, dengan tingkahnya yang aneh yang selalu menatap lekat wajah Natasya, kemudian membuka-buka ingatannya tentang wajah yang merona di sampingnya. Membuat Natasya curiga dengan tingkahnya yang aneh itu.
“Mba’ kelihatannya kita pernah ketemu deh...!!! pemuda itu mencairkan suasana,
“ Emm pernah ketemu,,!!!! Dimana??? Tanya Natasya menyelidikinya.
“ Entahlah ingatanku tak terdefinisakan.
“ kalau kamu sendiri sudah lupa...!!!! Apa lagi aku, sementara aku baru kali ini melihatmu.
“tidak mba’ aku benar-benar pernah melihat Mba’, tapi dimana ya??? Pemuda itu sambil melacak kembali ingatannya yang masih buram. Namun sekalipun dengan ingatan yang buram pemuda itu tiba-tiba dapat mengangkis ingatannya kembali. Dengan tingkahnya yang aneh itu membuat Natasya makin heran dan ia ingin menyelidikinya lebih lanjut tentang pemuda yang ada di sampingnya itu. Tapi sebelum Natasya berkata apa-apa, pemuda itu tiba-tiba mengejutkannya dengan menghidangkan wajah percaya dan ragu. Tapi sekalipun begitu pemuda itu tetap memaksakan diri untuk mengungkapkan tentang ingatannya kembali kepada Natasya.
“Aku itu Mba’ pernah lihat Mba’ di facebook,
“ Oh kamu lihat saya Cuma di facebook..!!!! ungkap Natasya sambil diiringi tawanya dan tawa Tini dan warda kedua temannya itu.
“ iya Mba’ seperti itu. dan Mba’ biasnya selalu ngelike dan ngomen status-status facebook aku.
“ apa..!!! saya selalu ngelike dan ngomen status-statusmu...??? Natasya makin penasaran terhadap pemuda di sampinya yang misterius ini.
“iya, yang paling berkesan buat aku waktu itu aku nulis status di dinding facebook aku kemudian Mba’ ngomennya hanya satu kata yaitu kata”LEBAY”.
“kalau aku boleh tahu, bagaimana bunyi statusmu yang membuat saya ngomen “LEBAY “ kepadamu.
“ Mba’ penasaran Ya??? Selidik pemuda itu.
“ tidak, hanya saja aku ingin memastikan apa yang dikatakan oleh kamu tadi.
“begini Mba’ bunyi status itu ” jiwa seorang yang dimabuk cinta akan merasa sakit karena rindu, sebab seorang pecinta selalu ingin bersama, sekalipun rintangan selalu mengahadang membuat batin menjerit dan tubuh binasa, namun bagi pecinta kebahagiaan dan kesedihan itu sama indahnya, karena cinta sejati pengorbanan takkan sia-sia”
“ oh iya saya baru ingat, “Natasya mulai melacak ingatannya” Mas kan yang memiliki nama facebook” PEMBURU REMBULAN” dan Mas juga yang selalu menulis status dengan status-status yang lebay.
“ Yah benar sekali “PEMBURU REMBULAN” itu adalah nama facebook aku, namun nulis status lebay itu bukan hobi aku Mba’
“ terus kalau bukan hobi kamu??? mengapa kamu selalu nulis status lebay.
“ maksud Mba’ status lebay yang aku tulis itu seperti apa???
“ itu seperti yang kamu katakan tadi??? “jiwa seorang yang dimabuk cinta akan merasa sakit karena rindu, sebab seorang pecinta selalu ingin bersama, sekalipun rintangan selalu mengahadang membuat batin menjerit dan tubuh binasa, namun bagi pecinta kebahagiaan dan kesedihan itu sama indahnya, karena cinta sejati pengorbanan takkan sia-sia”.
“ Mba’ perlu Mba’ tahu ya, setiap kali aku nulis status facebook itu memang benar-benar suara hati yang paling dalam, jadi kata-kata yang terucap itu bukan lebay, hanya saja orang menganggapnya lebay, entahlah dari sudut pandang mana orang menilainya, sehingga dikatakan lebay olehnya.
“ jadi status itu, benar-benar tidak lebay maksudmu???
“ yang jelas iya. karena saya mengungkapkan itu semua sesuai dengan apa yang saya rasakan selama ini.
“Perbincangan di terminal itu membuat Natasya selalu mengalunkan Angannya, bahkan pernah sampai ke puncak angannya yang tingkat tinggi, dan anehnya Natasya yang anti kasmaran kini ia mulai mengidap penyakit kasmaran dan dalam lautan jiwanya tertarik ingin tahu lebih jauh tentang pemuda yang ditemuinya di terminal itu namun tidak punyak waktu yang lumayan banyak untuk berbincang lebih lama, karena bus sudah siap melaju dengan jurusan yang telah di tetapkannya.

senandung kepedihan

SENANDUNG KEPEDIHAN


Senandung kepedihan memang sudah mulai mengarat namun belum mampu menjuntai selaksa kebahagian,kesan mendung mengerami gerimis sudah terasing lagi mengurai penampilan raja dan mahkota disudut istana, jauh sebelum mentari mengarahkan tatapannya pada lumbung kegaduhan sejenak langit tersenyum manja tak mengundang kabut kelam sandiwara fatamorgana menukik nukik syahdu meremangkan sajak yang baru saja aku lukis diantara bentangan kegelisahan dan keraguan, linang air mata mulai deras mengusap pipi di irirngi tembang mengucil dari mulut parau suara menyala-nyala menghanguskan perjalanan angin dengan lumuran debur ombak di sela-sela kelam bermimpi, duh pena yang mengotori kenangan tak mampu lagi aku hapus dengan masa depan yang berwarna emas di ubunku, namun selama paruhku belum patah mematuk-matuki harapan yang menggeletik perasaan yang sedang tertidur lelap, tikar yang kujadikan lantai tergulung oleh badai, sedangkan ranjang yang aku tempati rapuh dibentak oleh suara yang menderik hingga menggelepar raga yang kian lumpuh, bersorak seluruh penonton menyaksikan penampilan yang aku tampilkan kusambut suasana meriah menggairahkan ladang  rambutnya mulai menguning tua di dadanya merunduk buah menyegarkan, di ubunnya bebunga menyeruak bak misik yang baru saja dieluskan pada sekujur tubuh nan lembut, sekeping do’a masih terselip di dalam do’a belum sempat terhamburkan kembali lantaran teramangi dengus angkara berkaca-kaca biarkan saja lelap menemani permadani-permadani yang aku kalungkan di leher berhala-berhala jiwa sedemikian gigihnya mengusir sinar tajam di sudut tangis mengalun dahaga memekik-mekik leher keresahan hingga bara senyum menjajal persentuhan sejuta keyakinan didalam dada para musafir  dini sejuta khayal di dalam angan tak kenal  asas kebekuan pikiran yang sedikit menjemukan sehingga aku tak lagi merelakan angin menggubah aksara yang aku tulis pada hamparan pasir.



24 maret 2012

jangan bertanya tentang kenangan


JANGAN KAU BERTANYA TENTANG KENANGAN

Sahabat semangatmu adalah semangat yang pernah
Mengarat diantara belantara para santri
Yang selalu menghafal I’lal dan imriti
Ikutilah arah mata angin yang pernah engkau pelajari
Sekalipun belum sempurna
Agar senggama biji-bijian yang telah berhasil kau tanam
Tumbuh kemudian bergelantung buah-buah
Sahabat kini matahari mulai ditelan bumi
Biasanya kita beramai-ramai kesungai
Untuk mengusir pengap yang setia menemani sahabat
Yang tak pernah alpa beribadah menyalurkan
Amal pada tabungan sorga,
Kau adalah orang yang paling sanggup memasunng diri
Dibarisan terdepan, sementara aku hanya mampu
Menyisihkan badan di tempat yang hampa
Sebab kalau tidak para setan berdecak-decak
Sahabat, jangan kau bertanya tentang kenangan
Karena belum sempat aku potret kenangan
Yang pernah kita rampungkan di tempat itu dan ingus kita di sana

Beraji,O1 maret 2012




SEMBURAT ANGIN YANG BERLELATU
                       
Mengapa kau pang-pang luka bernana
Dirumahku mengejar muka cermin berlogokan kecantikan

Dipantatmu menyimpan debur ombak
Melengkingkan hasrat di mataku
Meluapkan rumpung di takat pantaiku
Kulepas baju kesatria karena kau taburi
Dengan semburat bangkai

Hingga orang-orang menghujamkan
Celoteh panas di kuingku
Membuat risau istanaku
Gemuruh langit berkelebat
Amangi mata indah di pangkuanku

Bagan pertikaian bergelantung
Di dinding kamar jiwaku
Sehari lalu yang kau sembur
Aku dengan angin berlelatu
Membuat lesu mataku menatap wajahmu

Beraji,2012



















pesan terakhirku

PESAN TERAKHIRKU


Pergilah kalau kau ingin pergi
Jangan lupa surat yang tak sempat aku tulis dengan kertas itu
Kau sampaikan pada mereka yang masih kelaparan, karena didalamnya
Telah kujelaskan menu makanan yang enak

Pergilah kalau kau ingin pergi
Sempatkan dulu solat dua rakaat
Sebelum engkau laporkan perihal kesetiaan mentari
Karena didalam solatmu tuhan akan mengabulkan hajatmu

Pergilah kalau kau ingin pergi
Dawamkan angin sepoi di pundak pagi
Mengantarkan salam keseluruh penjuru

Pergilah kalau kau ingin pergi
Sebelum mentari ditelan bumi
Karena sebentar lagi
Geger anjing akan menggersangkan hati

Pergilah kalau kau ingin pergi
Bacalah apa yang dapat kau baca
Untuk membentengi perjalananmu
Kesebrang, teringat duri telentang
Memenuhi sepanjang jalan kecil,

Pergilah kalau kau ingin pergi
Selamat jalan semoga mendung
Menggiringmu sampai tujuan.

Beraji 23 februari 2012


AKU DENGAN SECANGKIR KOPI   

Aku dengan secangkir kopi
Memandikan sajak-sajak yang baru bermekaran
Menemaniku menyanyikan lagu-lagu sunyi
Karena sebatang bolpen dan selembar kertas
Berhasil aku sandra.

Rupa-rupanya malam sudah merampungkan senyum
Sedangkan lelampu mulai melambaikan tangan
Kemesrahan mengundang pagi,

Aduhai di pagi menggigil
Apa yang hendak aku rampungkan hari ini
Karena telah dua masa dan dua babak
Telah berhasil aku kelabuhi,

Ini adalah kenangan
Kenangan yang tak mungkin habis ditelan masa
Kenangan yang tiada akhir sekalipun ada awal

Hotel sahid surabaya, 05 okt 2012



SKETSA JALAN

Apa kau sudah tahu
jalan begitu jauh dan melinatang di setiap persimpangan,
sementara ilalang dilembah mengumandangkan syair rindu padamu, sejak kau merias penganten kembar di beberapa istana,
mengalungkan persemidian yang menjadi khalwat seabad kemudian.

Aku belum mengerti setapak yang kau licinkan dengan aspal
Kini tembus di pintu rumahku
Kau taruh satpam di tempat pelacuranku
Sehinngga aku tak lagi melacur
Kau suruh para da’I memusnahkan gerejaku
Agar aku berhenti mengeja tuhan.

Katakan saja siapa yang tak merasa gelisah
Kalau bilangan yang terpatri di mendung
Kemudian engkau hapus dengan rinai hujan
Padahal cita-cita mereka sebesar bilangan
Telah terpatri di mendung.

Beraji 25 februari 2012


TAMAN MULAI MENGARAT DI DADANYA

Bila aku menanamkan uang kesaku
Maka lengking suara menyambar-nyambar telinga
Menjadikan seribu satpam sabar
Sebesit kemudian suara itu membludak
Membangun cagar kehidupan
Senantiasa istana megah yang selalu menghajar ingatan untuk selalu dirindukan.

Sunyi rawan menjadi teman
Bahkan senyum nyaris tiada sebagai saksi hija’iyyahnya
Sumpah suara akan meramaikan cagar kehidupan yang lumrah
Berdirian kala tahu tiada bayangan baskom senggama perawan tua lagi

Semasa taman mulai mengarat didadanya
Maka rerumputan tak lagi menghijau
Karena semisal rinai gerimis mengguyurnya
Hanyalah seribu abad sekali
Hingga tak cukup mengusir dahaga yang berkepanjangan memekiknya


Beraji, 25februari 2012



BUKAN AKU TAK MAU

Bukan aku tak mau menjengukmu,
Tapi rimbun yang bergantian mengahadangku ini
Melepuhkan badai kesahku untuk menopang tubuh,
Anyir sudah perahu jiwa ini dengan semua prahara,
Di depan mata, akibat ombak berbuih dahsyat mengamangi jantung menerkam tanya yang ada

Bukan aku tak mau membelaimu, dengan kasih sayang
Aku kira waktuku aku sulam seluruhnya untuk mengingatmu, meskipun diri ini bagai dedaunan yang belum gugur habis disantap ulat

Bukan aku tak mau menemanimu,
Andai kau tahu hati ini selalu menjaga dan mengukir namamu, dengan tinta yang akan aku kekalkan dimasa kita memandikan tubuh dan membersihkan peluh yang mengalir akibat terlalu lama kita dikejar oleh matahari

Bukan aku tak mau meneduhkan diri ini bersamamu,
Andai kau tahu dirimu selalu kujaga dengan keabadian namamu dibeberapa lembar perasaanku,
Tunggu saja aku di pelabuhan rindumu
Sebab sebentar lagi rindumu akan mengabulkan apa yang kamu rindukan.

TEBASLAH BERHALA YANG BERTEDUH DILAUT JIWAMU

Selagi matahari cemaskan embun
Cepatlah kau tanggalkan sepatumu
Untuk melukis kesejukan diantara gigil yang bergelombang
Mengibarkan bendera perupacaraan

Bahwa saat yang begitu singkat kini menjelma ratusan prajurit
Untuk menebas-nebas misimu
Sementara kau belum siap berperang
Pedang yang kau asah belum tajam
Sekalipun mengkilap tak kuasa menancap

Kalaupun mereka enggan mengikuti jalan
Yang mereka petakkan disusdut kebinasaan
Merekapun akan mampu mebmbabat rimba yang lain
Sebagai lorong besar kemaksiata

Sejak harapan sanggup belajar merenangi aliran air mata kebahagiaan
Maka ikan-ikan kenangan semakin gemulai menepuk-nepuk jemarinya

Banyak sekali kabut menyamarkan ungkapan
Yang telah aku lukis diantara atmosfer dan ozon-ozon
Banyak sekali senyum dipenjarakan oleh wajah pucat pasi
Lantaran menganggap semua harapan telah berubah
Menjadi ruang hampa belaka

Untuk sementara waktu
Tebaslah seluruh berhala yang berteduh ditaman jiwamu
Karena ia akan mengapungkan kemusrikan
Beraji,29 februari2011




KEBUN SENJA
: bojes sahabatku

Sebongkah wirid yang kau tunggangi
Telah terkapar semarak kebahagiaan
Betapa luruh jiwamu disayat-sayat pedang kegelisahan
Sekalipun yang kini kau derita
Melebihi tamparan seribu malaikat

Alangkah terkesima kumbang dan tawon
Menyaksikan mawar yang kau satpami beberapa abad yang lalu
Kini mekar dikebun senja

Lembaran yang kau titipkan pada nyanyian angin malam
Kini sobek akibat decak hujan berlebihan
Sementara bayang-bayang keramaian
Bergantian mewarnai tatapanmu

Memang perih namun tak ada asap kemenyan untuk mengundang
Harumnya mistik kekhusu’an melambungkan hasrat ketentraman

Pupuklah ketabahanmu dengan tawakkal
Selagi angin masih angin buritan
Agar penyakit yang derita tidak merong-rong kesekujur tubuh

Jangan hamburkan seluruh amarah
Karena tak mungkin lagi
Senyum yang berlarian itu
Sekejap mata kembali

Walau malam-malam kau putar tasbih
Menembangkan rojak, kini telah pupus segala apa yang kau ukir
Menjadi kabur tak lagi terbaca

Pedih, perih memang bercambur baur
Tapi janganlah penggal seluruh mawar
Yang masih mengharap taburan air matamu
Karena esok akan menjaga tidur lelapmu….

Beraji,1 februari 2012



KEMUNAFIKAN YANG MENJADI SELIMUT


Banyak sekali istana yang bermunculan tak ditemukan pendirinya, akibat tiada keinginan keberadaannya bila wajah yang mereka hadapkan hanya untuk menebus dosa tiada kesungguhan dalam tindakan kemunafikan yang menjadi selimutnya semakinmembengkak mengusir dengin kebenaran, bersajak adalah hobi menjadikannya mengenal dunia, namun belum cukup sebagai bekal diperjalanan karena terlampau banyak pengemis yang mengarat diterminal-terminal. Seandainya batu-batu menjelma mutiara katamu maka akan kutitahkan ajudan yang selalu menebar senyum di sisiku untuk menyisihkan sinar kemilau yang dipancarkan mutiara itu, agar mereka tak lagi ceramah kesengsaraan.


Beraji,01 februari 2012